Gunung Gedepangrango

Minggu, tanggal 22 September 2013, akhirnya rencna kami untuk melakukan pendakian ke puncak Gunung Gedepangrango terlaksana setelah sekian lama tertunda di karenakan faktor cuaca dan buka tutupnya Taman Nasional Gedepangrango. Sebelum pendakian di mulai 3 minggu sebelumnya kami telah booking pendaftaran, dikarenakan adanya keterbatasan kuota, terdapat 3 jalur pendakian menuju gunung Gedepangrango, yang pertama lewat jalur Cibodas, kedua lewat jalur Gunung Putri, dan ketiga lewat jalur Salabintana Sukabumi.
Kami booking untuk 10 orang melalui jalur Cibodas, karena melalui jalur ini kami akan melihat dan merasakan langsung keindahan alamnya, walaupun jalur pendakiannya lebih panjang dan melelahkan jika di bandingkan jalur Gunung Putri.
Dari Karawang kami berangkat pkl 00:30 dengan menggunakan ELF Loji, yang kami sewa untuk sekali jalan melalui jalur Loji, Cariu, Cianjur dan sekitar pkl 04:30 kami sampai di kebun raya Cibodas. Kemudian shalat Subuh berjamaah di mesjid yang berada di belakang kantor Taman Nasional Gedepangrango, tidak lupa kami sarapan pagi dulu. Tepat pkl 06:00 kami mulai pendakian, sebelumnya kami melakukan registrasi ulang dahulu dan pengecekan barang bawaan kami oleh petugas, setelah itu di mulailah petualangan.

gerbang

Jalur pendakian Cibodas terlihat jelas, sehingga kami tidak akan merasa khawatir tersesat, selama kami tetap berada pada jalur yang telah di sediakan. Kicauan burung-burung dan gesekan daun si raksasa pohon Rasmalla yang di kerubuti lumut dan anggrek liar menyambut kami. Setalah menempuh perjalanan sekitar 1,5 km atau 0.5 jam, kami sampai di Talaga Biru, sebuah danau yang biru airnya di sebabkan oleh gangang hijau biru yang hidup di dasarnya, serta ada banyak ikan mas dengan ukuran yang lumayan besar terlihat jinak ketika kami mendekat ketepian telaga seakan-akan berharap pengunjung melemparkan makanan ke arahnya.

DSC_0373-picsay

Talaga biru

Setelah kami puas menikmati keindahan Talaga Biru, kami melanjutkan perjalanan, kali ini kami melewati rawa-rawa yang tidak kami ketahui namanya, dengan mudah kami dapat melewati rawa itu, dikarenakan pengelola balai Taman Nasional Gedepangrango telah menyediakan jembatan beton sepanjang kurang lebih 0.5 km.

Setelah melewati rawa ini, perjalanan mulai menanjak dan setelah menempuh perjalanan selama 1 jam atau 2,8 km dari pos pertama/pos start, kami sampai di pertigaan curug Cibeurem, kami memutuskan untuk tidak mengunjungi curug Cibeureum karena dari pertigaan itu, harus turun sejauh 0.3 km, kami lebih memilih melanjutkan perjalanan ke puncak Gede yang masih berjarak sekitar 8,5 km lagi, setelah berjalan selama 1 jam dari pertigaan curug Cibeureum, kami sampai di lokasi air panas. Di lokasi ini terdapat sumber mata air panas yang mengalir melalui tebing bebatuan yang curam, kami sarankan jika melewati area ini harus memakai sepatu, karena jika kaki terkena langsung akan terasa sangat panas menyegat.

2013-09-22 09.45.24

Cipanas

Setelah melewati air panas, kami lanjutkan perjalanan yang semakin menantang ini, setelah berjalan sekitar 2 jam kami sampai di pos kandang Batu, disini terlihat ada beberapa pendaki lain yang sedang berkemah, pos ini sangat ideal untuk mendirikan tenda. Selain cukup luas, areanya juga datar cukup untuk kira-kira 10 tenda isi 3 orang, terdapat juga sungai kecil yang mengalir di sampingnya, biasanya yang berkemah disini adalah para peneliti burung, dan tidak jauh darisana ada air terjun Cileweh yang wahhhhh….. indahnya.

2013-09-22 10.12.57

Cileweh

Setelah berjalan selama 1 jam dari Kandang Batu, sampai lah kami di pos Kandang Badak dengan ketinggian 2250 mpdl, pos ini merupakan pos transit bagi mereka yang akan melakukan pendakian ke gunung Pangrango atau bagi mereka yang baru turun dari puncak gunung Gede melalui jalur gunung Putri Cipanas, di pos ini juga merupakan pos terakhir yang masih terdapat sumber mata air.

Waktu telah menujukkan pkl 10:45, tapi perut kami sudah terasa lapar, untuk itu kami memutuskan membuat makan siang ala kami sendiri (ngaliweut). Kebetulan sekali, salah satu anggota kami ada yang pandai memasak, yaitu Chef Gally Restoe Bumi, Chef Gally memang ”ahaaii”. Saya baru merasakan ada nasi liweut senikmat ini, setelah menikmati liweutnya chef Gally, tak terasa waktu telah masuk pkl 12:05 lalu kami melaksanakan sholat Dhuhur berjamaah. Setelah itu kami mengambil air dengan jerigen untuk persedian di puncak, kurang lebih 2 jam kami berada di pos Kandang Badak, sekitar pkl 13:30 perjalanan kami lanjutkan kembali, setelah berjalan kira-kira 300 m kami tiba di pertigaan jalur pendakian ke gunung Pangrango dan gunung Gede.

Dikarenakan tujuan kami ke gunung Gede, maka kami lanjutkan perjalanan ke gunung Gede, trek yang kami lewati semakin menanjak, terjal dan udara dingin mulai terasa menusuk tulang. Selain itu vegetasinya mulai berubah, sudah terlihat pohon-pohon khas dataran tinggi, seperti pohon Cantingi. Pohon ini memiliki daun warna merah, oranye pada bagian pucuknya sehingga dari kejauhan terlihat puncak Gedepangrango begitu mempesona sekali, bahkan kami menemukan 1-2 pohon edelweis yang masih kecil. Udara semakin dingin dan jalanan semakin terjal di hadang batu, kerikil, pasir dan juluran akar-akar pohon Cantingi hingga sampai kami pada suatu lereng yang curamnya sekitar 75°, banyak orang menamakannya “Tanjakan setan” untungnya oleh pengelola di sediakan tali tambang plastik dan sling kawat baja, tips “hati-hati jika berpegangan pada sling baja karena ada sebagian serabutnya yang sudah terkoyak, tapi jangan khawatir jika anda merasa takut untuk memanjat Tanjakan setan ini, ada jalan alternatif ko.. yaitu anda harus memutar arah ke sebelah kiri tebing.

2013-09-22 14.12.22

Tanjakan setan

Setelah melewati tanjakan Setan ini lalu mendaki lagi selama 0.5 jam, akhirnya kami sampai di puncak gunung Gede 2953 mpdl, rasa lelah kami akhirnya hilang seketika ketika melihat indahnya kawah gunung, sampai-sampai anggota kami ada yang bersujud syukur melihat keindahannya.

cropped-dsc_0415-picsay.jpg

Perjalanan kami lanjutkan menuju alun-alun Surya Kencana, di tempat ini lah kami dan para pendaki yang lain akan berkemah, tapi untuk sampai kesana kami harus naik lagi melewati bibir kawah, kemudian kami menuruni bukit selama 0.5 jam menembus kerumunan pohon Cantingi yang rimbun dan lebat. Pukul 17:05 kami sampai di alun-alun Surya Kencana, sebuah lembah dengan luas kira-kira 50 H banyak ditumbuhi pohon Java Edellweis putih, yang bunganya sedang bermekaran dan di batasi oleh bukit Gumuruh di sebelah selatan dan gunung Pangrango di sebelah barat.Udara semakin terasa lebih dingin, termometer menunjukan suhu 3°, uap yang keluar dari mulut pun terlihat jelas mengepul, sehingga kami pun cepat–cepat mendirikan tenda dan mengganti pakaian, dilanjutkan dengan melaksanakan sholat Ashar. Setelah tenda-tenda didirikan, kami semua masuk tenda, hanya sesekali kami keluar untuk melaksanakan sholat saja, setelah itu kami tidak ada lagi yang keluar, sleeping bag, jaket, sweeter, kupluk seakan-akan tak kuasa membendung dinginnya malam, sehingga kami tidak bisa tidur dengan nyeyak. Malam dingin terasa lama kami lewati, kami bisa tidur mungkin karena keletihan yang amat sangat, tak terasa jam 05:20 kami bangun dan begitu kami keluar tenda, hal menakjubkan terjadi, tenda-tenda kami diselimuti bunga es, begitu juga dedaunan yang ada di sekeling kami di selimuti bunga es, Subhanallaah betapa indahnya.

DSC_0457-picsay

Pukul 06:10 lagi-lagi keindahan alam terjadi, kami dapat menyaksikan terbitnya matahari (sunrise), menerpa pepohonan tenda dan tubuh kami yang rapuh, sinarnya menghangatkan tubuh dan melumerkan bunga-bunga es, disini kami dilarang untuk membuat api unggun, sehingga matahari lah yang dapat menghangatkan tubuh selain dari segelas kopi hangat. Agar tubuh kami tetap hangat sebagian dari kami ada yang berjalan-jalan mengelilingi lembah sambil berjemur dan mengambil beberapa gambar, sementara itu Chef Gally dan asistennya chef Ipin sibuk menyiapkan sarapan sebagian lainnya termasuk Saya membereskan tenda dan peralatan lainnya, serta membersihkan area sekitar dan sampahnya kami masukan ke dalam kantong plastik untuk di bawa turun dan di buang di tps yang terdapat di luar Taman Nasional. Setelah Chef Gally menyediakan sarapan, kami pun sarapan bersama, setelah itu kami siap-siap untuk melakukan perjalanan pulang, pukul 08:30 perjalanan pulang dimulai dengan terlebih dahulu berdo’a agar di beri kelancaran dan keselamatan, kami tidak lagi balik ke jalur Cibodas tetapi kami lewat jalur Gunung Putri yang jarak tempuhnya lebih singkat. Walaupun kami mengetahui, bahwa jalur ini di tutup sementara karena sedang ada perbaikan jalur pendakian, tetapi kami coba memaksakan kesana, mengingat ada anggota kami yang tidak sanggup untuk kembali lagi ke jalur Cibodas, karena harus mendaki lagi melewati puncak. Sampailah kami di pintu masuk dan keluar Gunung Putri, ternyata tidak ada penjaga sehinga kami pun dapat melenggang dengan bebasnya, ternyata benar di tengah perjalanan terlihat banyak pegawai bangunan sedang membuat jalan tembok menuju puncak, di samping jalur alami atau lama, 3 jam sudah berlalu akhirnya kami tiba di sebuah desa di kaki Gunung Putri.

DSC_0582-picsay

Di desa tersebut terdapat pos penjagaan atau tempat registrasi pendakian, kami pun berhenti di sana untuk lapor dan petugas pun berkata ”anda tidak tahu kalau jalur kesini sedang di tutup?” kami jawab pura-pura nggak tahu dan petugas pun memeriksa ransel kami semua, ternyata anggota kami ketahuan ada yang membawa pasta gigi, padahal kami tahu itu dilarang termasuk semua barang yang mengandung deterjen dan petugas pun spontan memberi sangsi, kami harus membeli trashbag sebanyak 2 kg ke kampung terdekat, kami pun menyanggupinya, tetapi kami hanya menemukan 5 pcs saja, petugas pun mau menerimanya dan kami pun melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai di sebuah warung yang lengkap dengan pasilitas kamar mandi umum, bale tempat istirahat, mushola, tempat parkir mobil, motor, sepeda dan makanan tentunya. Setelah itu kami berjalan selama 1 jam dari desa Sukatani menuju pasar Cipanas, dikarenakan tidak ada angkutan desa yang lewat atau pun ojeg, hanya ada mobil pick-up yang sibuk mebawa sayuran, sekitar pukul 15.00an kami sampai di mesjid Baitul Rahman pasar Cipanas dan kami pun langsung shalat Ashar. Kemudian sebagian dari kami naik angkutan umum yang menuju Bogor dan sebagian lagi naik bus menuju kampung Rambutan untuk di lanjutkan ke karawang, akhirnya pukul 19:35 kami sampai dengan selamat di Karawang dan menuju ke rumah masing-masing.
Demikianlah sedikit pengalaman kami waktu melakukan pendakian ke gunung Gedepangrango, kami bukan lah pendaki profesional, kami hanyalah sekelompok orang yang merindukan suasana alam yang asri, keluar dari dari kepenatan rutinitas sehari-hari dan menyaksikan ke indahan alam negri kami tercinta INDONESIA, sampai jumpa di perjalanan kami selanjutnya….

Penulis : Yayan Suhendar
Foto : Agus Sastra
Peserta:
1. Agus Sastra (Prod PM#3 ,bmj)
2. Gally Restoe Bumi (Mtc PM#3,bmj)
3. Lukman (QC Analys PM#3,bmj)
4. Suhendar (Prod PM#3,bmj)
5. Usman (Prod PM#3,bmj)
6. Yayan Suhendar (Prod PM#3,bmj)
7. Opa Budi (Pasar Buah Karawang)
8. Ebeng (Talaga Sari Karawang)
9. Teguh (Wadas Remah Abang Karawang)
10. Kahfi Maulana (Wadas Remah Abang Karawang)

2013-09-22 06.01.57

Kukurusuk Adventure Karawang

Advertisements

About Kang Yayan

My Home Is where the Tent is
This entry was posted in Hiking. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s