Gunung Sanggabuana

Minggu 07 september 2014 kami kembali melakukan pendakian,yang untuk kesempatan kali ini kami akan mendaki gunung tertinggi di kabupaten Karawang yaitu gunung Sanggga buana,yang terletak di desa Mekar buana tegal waru Loji Karawang dengan ketingian sekitar±1300 mpdl, Gunung ini terletak di perbatasan empat kabupaten, yaitu di sebelah utara ada Kabupaten Karawang, sebelah timur ada Kabupaten Purwakarta, sebelah selatan ada Kabupaten Cianjur dan sebelah barat ada Kabupaten Bogor, jumlah peserta yang mengikuti pendakian kali ini sebanyak 7 orang ,pkl 06:45 kami berangkat dari Karawang dengan menggunakan sepeda motor dan sampai disana sekitar pkl 08:05,kemudian kami titipkan sepeda motor kami di rumah warga setempat yang sengaja banyak halaman rumahnya di jadikan tempat parkiran umum,mengingat di daerah ini terdapat banyak obyek wisata selain Gunung Sangga buana yaitu ada Curug cigentis dan Curug bandung yang terletak di kaki gunung Sangga buana.
Jalur pendakian ke gunung Sangga buana terdiri dari dua jalur pendakian yaitu:
melalui jalur Cibeureum Cariu Bogor
melalui jalur Cigentis Loji Karawang
untuk kesempatan kali ini kami mengambil jalur pendakian Cigentis

C360_2014-06-01-16-09-07-065

Jalur pendakian di mulai dengan menelusuri jalan kecil di samping pemukiman warga lokal,setelah itu melewati perkebunan dan hamparan sawah yang luas dengan latar barisan bukit-bukit yang indah menawan kemudian kita melewati beberapa sungai sungai kecil alami dengan airnya yang jernih dan sejuk, sangat menggoda untuk sekedar berhenti sejenak, sekedar cuci muka atau bahkan untuk minum airnya yang jernih itu ,namun sayang debit yang mengalir agak sedikit maklum lagi musim kemarau.

SAM_3845

C360_2014-06-01-15-50-08-695

Selang beberapa saat setelah area pesawahan, kami melewati sebuah perkampungan kecil yang benama kampung Situ, yaitu sebuah kampung terakhir yang kami jumpai yang hanya terdiri dari beberapa keluarga saja,dikampung kecil ini kami menemukan beberapa makam tua yang di sebut makam Langlang buana tepat berada di tengah jalan dan dibawah rimbunya beberapa pohon yang tinggi besar menjulang

C360_2014-06-01-11-28-15-020

setelah perkampungan kecil tersebut kami menemukan area perkebunan kopi yang cukup luas,kemudian memasuki hutan yang tidak begitu rapat,dan alangkah terkejutnya ketika melihat sungai yang pada tahun kemarin berukuran lebar kira-kira 1m kini menjadi ±6 m,mungkin ini akibat tergerus banjir bandang yang terjadi beberapa bulan yang lalu pada saat musim penghujan,setelah melewati sungai tersebut yang kebetulan pada saat itu mengering ,kami tiba di Curug kejayaan,di curug inilah salah satu mistery terjadi karena selain para pendaki banyak juga para peziarah yang baru turun dari puncak mereka datang tidak hanya dari Karawang tetapi banyak juga dari luar kota,di curug Kejayaan ini mereka sengaja mandi dan setelah itu mereka meninggalkan pakaian dalam mereka bahkan ada yang membakarnya yang katanya dengan cara itu mereka dapat membuang sial,tapi menurut kami itu bukan membuang sial tapi mengotori area sekitar dengan pakaian dalam.

C360_2014-06-01-14-37-46-557

disini juga terdapat bangunan kecil yang di jadikan warung yang menyedikan makanan dan minuman bagi para pendaki maupun peziarah,di warung ini pula kami istirahat sejenak, Setelah beristirahat kami mempersiapkan diri untuk menghadapi tanjakan yang Medanya curam dengan elepasi sekitar 70⁰-80⁰ yang harus dilalui mencapai 70% dari keseluruhan jalur pendakian, disini kami bukan hanya sekedar mendaki tapi menggelantung ke akar-akar pohon,disini terdapat banyak pohon dengan diameter sebesar perut gajah dewasa dan ketinggian yang mencapi puluhan meter,di antaranya ada pohon Damar yang sebagian telah tumbang alami atau karena banyak di ambil getah dan kulitnya sehingga menjadi mati dan tumbang,begitu pula dengan fauna disni kami melihat banyak jenis serangga khususnya Turaes dan Tongeret yang riang bernyanyi,dan beberapa species Burung dan gerombolan Lutung hitam ekor panjang sedang mencari makan dan bermain di pepohonan yang besar.

C360_2014-06-01-14-53-50-047

tanjakan ini diberi nama tanjakan dua jam, kenapa demikian? karena untuk melewati tanjakan ini dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar dua jam, itupun kalau di lakukan pada musim kemarau apalagi pada saat musim hujan jalur ini akan terasa sangat licin,menjadi alur air hujan yang akan menguras fisik dan mental,tanjakan yang tadinya bernama dua jam mungkin akan berubah menjadi tanjakan empat jam, lima jam, atau bahkan berjam-jam.

Setelah kami melewati tanjakan yang sangat melelahkan ini kami sampai pada sebuah tempat yang agak lapang(bonus),di tempat ini juga berdiri sebuah bangunan yang terbuat dari kayu (warung mang Udin) di sini kami ber istirahat lagi, Jika anda tidak ingin bermalam di area puncak, anda bisa ngecamp/nginap di warung mang udin untuk sampai di puncak Gunung Sangga Buana dari area lapang ini hanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam lagi.

C360_2014-06-01-10-33-30-105Sekitar pkl 12:40 kami sampai di puncak, disini ada dua warung yang buka 24 jam dua-duanya menyediakan pondokan luas berlantai kayu setinggi sekitar 50cm, berdinding bilik bambu dilapis terpal untuk mengurangi dampak cuaca dingin puncak gunung pada malam hari dan yang paling menarik adalah mendaki kesini tidak perlu membawa tenda,dan banyak logistik kita bisa nginap di warung-warung ini dan gratis ,tapi jangan lupa tata krama dan sopan santun,ada simbiosis mutualisme diantara para pendaki dan pemilik warung ini. para pendaki butuh shelter atau tempat menginap sementara yang cukup nyaman dan tentu saja butuh makanan dan minuman, sementara pemilik warung butuh pembeli bagi dagangannya,namun, bagi para pendaki gunung pro bisa jadi gunung ini hanyalah tempat refreshing atau sekedar latihan saja,karena memang tak masuk dalam daftar gunung pavorit untuk di daki oleh para pendaki,namun jika di bandingkan dengan gunung-gunung di jawa barat yang pernah kami singgahi seperti gunung Gedepangrango,Putri,Ceremai,Papandayan,gununung sangga buanalah yang memeiliki trek paling curam di antara deretan gununung di atas walaupun jarak tempuhnya pendek yaitu di “tanjakan dua jam”.

Di puncak juga terdapat beberapa bangunan kecil yang menyerupai rumah berjejer rapi,dan anda tahu apa yang ada di dalam bangunan ini, ya Anda betul, jawabanya adalah Makam,kami semua kurang tahu makam-makam siapa yang ada disini, namun kami coba tanya ke pemilik warung dan ke peziarah,ada yang mengatakan makam-makam ini adalah makam nenek moyang penduduk asli Karawang,ada pula yang menyebutkan kalau itu hanya Makom saja alias tidak ada orang yang di kuburkan di sana yang dikuburkan hanyalah beberapa pusaka tempo dulu,dan kami tak sempat menghitung ada berapa makam di puncak itu, yang jelas ada banyak sekali,dan yang paling menarik adalah adanya makam yang panjangnya mencapai m,makam atau makom inilah yang membuat banyak orang mengunjungi Puncak Gunung Sangga Buana,entah karena alasan apa mereka rela bersusah payah mendaki puncak ini, semoga saja niat mereka berada di jalan yang benardan bagi kami pribadi makam/makom ini telah memberikan keunikan tersendiri yang jarang kita temukan di gunung-gunung lainnya,dan dari puncak ini pula anda dapat melihat bendungan terbesar se Asia tenggara yaitu Bendungan Jatiluhur.

C360_2014-06-01-13-12-24-964

picsay-1401806294

Setelah kami sampai di puncak beristirahat,menyantap perbekalan yang di bawa dari rumah/warung yang ada di sini untuk memulihkan tenaga karena nanti perjalan turunpun tak kalah menantangnya dan selepas sholat dhuhur berjemaah sekitar pkl 12:50 kami lanjutkan perjalanan turun dan sampai di tempat parkir sekitar jam 15:45 kemudian di lanjutkan perjalanan pulang ke Karawang kota ke rumah masing-masing dengan selamat.

Jika Anda mempunyai waktu luang sempatkanlah untuk  berkunjung ke Gunung Sangga Buana Karawang. Saya jamin anda tidak akan pernah menyesal setelah bersusah payah mendaki gunung ini, rasa susah selama pendakian akan terbayar dengan keunikan puncak yang di selimuti kabut dan misteri.

Sekian dulu cerita kami hari ini semoga bermanfaat,Salam

Peserta:

Opa budi (Pasar buah Karawang)

Yayan suhendar (Prod PM#3,bmj)

Agus sastra (Prod PM#3,bmj)

Mairan (Prod PM#3,bmj)

Jaenal abidin (Prod PM#3,bmj)

Galih (Mtc PM#3,bmj)

Lelly (Lamaran karawang)

Photos by Agus sastra

Narator by Yayan suhendar

Advertisements

About Kang Yayan

My Home Is where the Tent is
This entry was posted in Hiking. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s